Selasa, 18 Januari 2011

Ketika Semua Bukanlah Segalanya

Pukul 22.57
ketika sibuk di depan laptop untuk mengerjakan sebuah aplikasi,tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah buku berwarna kuning di dekat Televisi. tanganku tergerak mengambil buku itu. kuperhatikan dengan seksama.sudah mulai berdebu,tanda sudah jarang dibaca.aku tiup bagian depan untuk menghilangkan debu-debu yang ada. terlihat ada 2 buah benang berwarna hijau dan biru.aku mulai membuka sebuah halaman pada benang berwarna biru. Benang tersebut menunjukkan halaman 82,pada Surat An-Nisa ayat 24. Perlahan,aku mulai membaca. Aku masih lancar membacanya.tapi dengan nada yang tak beraturan.tak seperti dulu. Entah kenapa,hati merasa teriris2 membaca ayat demi ayat.sampai pada suatu ketika,aku berhenti membaca. Setitik air keluar dari mataku.Sudah lama aku tak merasakan perasaan seperti ini.

Kubuka halaman pertama buku kuning tersebut. Tertulis dengan jelas beserta tandatangan: "Yogiek Indra Kurniawan: 28-08-2008"

yah,itu adalah tanggal ketika aku membeli buku tersebut.Aku masih ingat.aku membeli buku tersebut di Sebuah Toko beberapa hari sebelum bulan puasa.Ketika itu aku punya 2 buah buku sejenis.yang 1 besar dan yang 1 kecil.tapi,aku berniat membeli buku tersebut karena punya keinginan bahwa di bulan puasa nanti,aku harus khatam membaca buku tersebut beserta dengan arti-nya. Yah,2 buku yang aku punya tak ada artinya.hanya tulisan arab yang ada. Waktu itu aku pulang dengan senangnya.

ketika bulan puasa pun,aku berusaha membaca tiap hari. dengan teknik yang berbeda dari biasanya. aku membaca 1 halaman Arab,lalu aku lanjutkan membaca artinya pada halaman tersebut. Masih teringat pula,saat di masjid sendirian pada tengah malam,aku tak henti-hentinya mengeluarkan air mata ketika membaca sebuah ayat pada buku tersebut.

Aku yang biasanya selalu tertawa-tawa,pada beberapa malam selalu menangis,terlebih ketika membaca Arti dari ayat yang aku baca. Masih terlihat pula dalam bayangan,ketika tanggal malam 29 Ramadhan, aku menyelesaikan surat An-Nas. Dan itu adalah pertama kalinya aku membaca khatam beserta Artinya. Di tahun-tahun sebelumnya,ketika puasa,aku hanya dapat menyelesaikan bacaan arab-nya saja.

Dan kini,buku yang aku sebut dengan Al-Qur'an itu masih berada di tanganku. masih utuh. benang biru masih menunjukkan bacaan arab terakhirku,benang hijau masih menunjukkan bacaan arti yang terakhir aku baca. Masih terdapat tekukan di surat Ya-Sin. Surat yang selalu aku baca ketika shubuh. Buku itu masih tak berubah,tapi sepertinya aku yang berubah. Sudah jarang sekali aku menyentuh buku tersebut. Debu-debu yang aku tiup tadi sudah menjadi bukti yang tak terbantahkan atas kelalaianku ini.

Aku mulai terdiam,mencoba menyelam lebih dalam,mengapa hal ini terjadi padaku. lalu aku melihat laptop di samping. Yah,sepertinya benda itulah penyebabnya. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di depan laptop itu daripada di depan buku kuning yang dulu selalu aku bawa dalam tas ini. Kini aku lebih sering sibuk mencari harta yang tiada habisnya di depan laptop ini,daripada sibuk menangis di depan buku kuningku.

Masih teringat,beberapa hari ini aku menginap di Telkom Japati,melupakan sholat Jamaah. dalam pikiran,yang terlintas adalah Hanya ingin pekerjaan ini cepat selesai. Beberapa minggu terakhir tidur pukul 3 pagi,tapi bukan untuk melakukan sholat tahajud seperti biasanya. Beberapa waktu terakhir,menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan dunia saja. Dan aku mulai menyadari sesuatu,"AKU TELAH MENJUAL TUHANKU DENGAN HARTA!"

Muncul sebuah penyesalan ketika aku memikirkan hal ini.Ketika aku berpikir,apa yang sebenarnya aku cari,semakin dalam aku berpikir,semakin aku kembali ke perasaanku dulu.Perasaan ketika hanya ada 1 yang benar-benar aku cintai. ketika hanya ada 1 yang benar-benar aku rindukan. ketika hanya ada 1 yang benar-benar ingin aku temui. Dan perasaan ketika hidup ini hanyalah sesuatu yang kecil,yang harus aku korbankan untuk 1 hal. Dialah Allah. Dan Dia-lah yang memberikan kesempatan padaku di malam ini untuk merenungkan apa yang seharusnya aku lakukan mendatang.

Allah masih mencintaiku. Allah masih menempatkanku pada posisi terhormat yang sebenarnya hanya karena Dia tidak membuka aib-aib yang pernah aku lakukan. Ketika Allah berkehendak untuk membuka aib-aib-ku,maka jadilah aku sebagai manusia terkutuk di kehidupanku. Allah masih menyadarkanku bahwa Pekerjaan yang selama ini aku tekuni hanyalah sebuah jalan untuk bisa mendekatkan diri pada-Nya.

Mungkin,Allah masih memberikan kesempatan kepadaku untuk menyadari kesalahan-kesalahanku selama ini dalam mempergunakan waktu. Waktu Yang lebih sering aku gunakan untuk bekerja daripada menyembah-Nya. Waktu yang lebih sering aku habiskan tanpa Arti,hanya untuk mencari Uang-uang (yang sebenarnya juga jarang aku gunakan!). Untuk apa aku menumpuk lembaran-lembaran tak berharga itu kalau pada akhirnya aku melupakan sesuatu yang seharusnya lebih berharga!

Orang tuaku dulu pernah berkata,"Cintailah pekerjaanmu! Tapi jangan cintai dengan seluruh hati. Cintailah istrimu! tapi jangan pernah melupakan siapa yang seharusnya kamu cintai"

Mungkin,baru sekarang aku mengerti apa maksudnya..
Maka,ijinkanlah aku,ya Allah.untuk memulai sesuatu yang baru di hari ini.tepat pada tengah malam pergantian hari.
Aku ingin menjadi manusia yang baru,mulai hari ini.
Dan aku ingin menghiasi setiap malamku dengan air mata untuk Dzat yang telah menciptakan manusia yang beranjak hina ini.
Semoga pekerjaan, pendidikan, harta dan istriku kelak tidak membutakan mataku lagi tentang siapa yang seharusnya aku cari,siapa yang seharusnya aku rindukan,dan siapa yang seharusnya aku cintai..
Amin..

10 komentar:

Andhika Septi Anggarsari mengatakan...

bagus kak .
terharu saya

kal mengatakan...

"AKU TELAH MENJUAL TUHANKU DENGAN HARTA!"
astaghfirullah al adzim, thx yogiek sudah mengingatkan

rahma mengatakan...

persis sama aku beberapa bulan lalu ka!
semoga kita termasuk golongan yg selalu dilindungi oleh Allah.

Bayu Dhian Sasongko mengatakan...

emang tuhan bisa dijual lo yog.
Nabi Ibrohim aja jualan tuhan waktu beliau kecil.
Beliau bekerja profesional dengan menawarkan dagangannya "siapa yang mau beli tuhan, tuhannya tidak bisa ngomong "

Pedang ditangan Rosul sama pedang ditangan perampok, tentu akan beda " Niat dan Pemakaiannya"

Aku yakin kalau Leptop ditangan yogiek bisa memberi pencerahan. Kayak bikin blog ini :D

Peace ah.

ratiehria mengatakan...

mantaaaap...nice share kk :D

Aditya Kresna P mengatakan...

Cerita yang menyentuh (^.^)

Anonimmengatakan...

speechless bacanya, cuma mampu terdiam dan merenung.. nice share...

Anonimmengatakan...

alhamdulillah...pencerahan untk aku

Anonimmengatakan...

sebuah pencarahan juga bwt saya mas dosen...

wawann mengatakan...

Hidup memang seperti sebuah buku, sampul depan adalah tanggal lahirnya dan sampul belakang adalah tanggal kematiannya, tiap lembar adalah hari-hari dalam hidup kita. ada buku yang tebal dan ada buku yang tipis. hebatnya sekotor apapun lembaran depannya karena ditulis i dengan hal-hal yang tidak berguna ataupun maksiat, selalu tersedia lembaran selanjutnya yang bersih yang siap ditulis i dengan hal-hal baru yang bermanfaat untuk memperbaiki kesalahan dan melanjutkan alur cerita. (Hadila)

Seperti apapun hari ini, semoga Alloh SWT mengusap lembut hatimu menjadikanmu bagian dari orang yang berjiwa tenang yang kelak akan datang kepada Alloh dengan dengan wajah bercahaya. Semoga harimu diwarnai kasih sayang-Nya dan setiap perbuatan ternilai sebagai pemberat amal kebaikanmu. amin ya robb.

regards

Posting Komentar